SELAMAT DATANG DI TANGKASNETINDO.DAPATKAN BONUS 10 % SETIAP DEPOSIT.

Penjelasan soal Cikal Bakal Terorisme di Kalangan Millennial

 

Ilustrasi, sumber foto: Shutterstock


Usai aksi bom bunuh diri Makassar, Sulawesi Selatan, dan teror di Mabes Polri, Densus 88 Antiteror menggeledah Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim di Berbah, Sleman, Yogyakarta. Penggeledahan tersebut diduga terkait kasus dugaan terorisme.


Berangkat dari kasus ini, banyak pertanyaan yang muncul, termasuk apakah ada benih terorisme di pesantren atau milenial saat ini? Mengapa Islam selalu dikaitkan dengan terorisme belakangan ini, bahkan istilah jihad muncul dalam aksi terorisme?


Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang KH Ahmad Fahrur Rozi atau yang akrab disapa Gus Fahrur ini memiliki pandangan dan sudut pandang tersendiri dari sisi Islam tentang terorisme. Bagaimana pandangan jihad menurutnya?


Adanya cikal bakal terorisme


Gus Fahrur berpendapat, jika berpedoman pada ajaran Islam, seharusnya tidak ada benih terorisme di pesantren. Ia juga membantah adanya radikalisme di pesantren, khususnya pesantren Nahdlatul Ulama (NU).


“Di pesantren tradisional NU tidak ada kamusnya terorisme atau pun pemberontakan kepada pemerintah yang sah, meskipun dzalum (zalim) sekalipun,” kata Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu.


Kalaupun ada, menurut Gus Fahrur, ajaran-ajaran itu bisa dijalankan oleh pesantren baru yang menganut aliran transnasional dari Timur Tengah. Padahal, kata dia, dulu tidak ada kerusakan candi dan gereja, sehingga bisa dinilai situasi aman.


“Pesantren kami berhadapan dengan gereja. Saya yakin tidak ada ajaran radikalisme di pesantren NU, karena bertentangan dengan ajaran Islam,” ujarnya.


Konsep jihad disalahgunakan


Motif jihad dalam terorisme, menurut Gus Fahrur, karena salah paham dengan ajaran Islam. Karena sebenarnya Islam adalah agama damai dan jalan bagi seluruh umat manusia.


“Motif jihad salah jalan itu menurut saya karena salah pemahaman agama, termakan berita hoax atau mungkin juga ketidakpuasan atas perlakuan pemerintah terhadap mereka yang mereka rasa tidak adil,” ujarnya.


“Hal ini kemudian juga dimanfaatkan oleh yang berkepentingan untuk menghasut rakyat kecil kritis untuk mengikuti pemahaman sesat, dan menyamakan jihad sebagai terorisme,” lanjut Gus Fahrur.


Alasan utama munculnya tekad pelaku terorisme, kata Gus Fahrur, tak lepas dari adanya ajaran sesat dan hasutan untuk memberontak. Karenanya, terorisme yang sering disamakan dengan konsep jihad dalam ajaran Islam adalah kesalahan besar.


"Dalam satu tulisannya Gus Dur menyatakan bahwa tidak ada kaitan antara dalil-dalil jihad dengan terorisme jika dipahami dengan benar," ujarnya.


Kata jihad menurut Gus Fahrur berasal dari bahasa Arab dan dalam ajaran Islam memiliki arti yang baik. Sedangkan terorisme berasal dari bahasa Latin (Eropa) yang artinya mengancam, menakutkan, dan tercela.


Dari segi etimologi, kata dia, kedua kata ini tidak sejalan, namun dalam wacana politik, makna dan gerakan terkadang bisa disalahartikan, berdasarkan siapa atau kelompok mana yang menafsirkan dan berkepentingan.


Lebih lanjut, menurut Gus Fahrur, kata jihad dengan berbagai turunannya disebutkan sebanyak 41 kali dalam Al Quran dan tidak semuanya berkonotasi 'peperangan'.


“Istilah jihad juga diperkenalkan Rasulullah SAW sebagai sebuah upaya pengendalian diri dari hawa nafsu. Al-Quran dan hadis lebih sering menyebut peperangan dengan Al-Qitaal, al Harb, dan al Ma’rakah,” ujarnya.


Diakui Gus Fahrur, selama belajar di pesantren mempelajari berbagai kitab hadits, sejarah dan fiqh tentang jihad, terbukti tidak ada satupun santri pesantren NU yang terprovokasi untuk melakukan terorisme.


“Kita di Indonesia sejak lama bisa hidup bersama berbagai umat beragama lain dengan damai dan toleran, dan telah terjadi akulturasi budaya secara unik,” ujarnya.


“Karena makna jihad difahami di kalangan ulama pesantren secara utuh dan kontekstual, jihad bertujuan untuk mewujudkan kebaikan, sedangkan terorisme tindakan merusak dan tidak berprikemanusiaan,” lanjut Gus Fahrur.


Melawan pikiran sesat dan menyediakan ruang


Jadi apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk memerangi konsep yang salah arah ini? Gus Fahrur mengatakan bahwa pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Pemerintah harus mendukung penuh ormas dan pesantren moderat untuk menjadi bagian dari pendidikan agama yang lugas dan deradikalisasi.


“Mereka harus diberi ruang dakwah dan dukungan dana yang memadai. Lapangan kerja bagi anak muda yang lebih baik agar tidak terbatas dalam ekonomi, sehingga tidak mudah terhasut pemahaman yang sesat,” ujarnya.


Berjuang dengan pemikiran memang tidak mudah, maka Gus Fahrur menjelaskan bahwa inovasi dapat dilakukan untuk meredam masifnya penyebaran radikalisme dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan ajaran-ajaran shaleh, dengan mengorbit para dai yang moderat.


Pendekatan juga bisa dilakukan dengan cara menggaungkan pemikiran yang lurus melalui kampus-kampus di Indonesia.

Tangkasnetindo | Bolatangkas Online Asia | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya




Posting Komentar

0 Komentar

About Me

header ads