Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno seusai bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Kilen, Yogyakarta, Jumat malam. (ANTARA FOTO/Luqman Hakim)
Sederet masukan didapat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno usai bertemu dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Keduanya bertemu sekitar dua jam di Keraton Kilen, Kota Yogyakarta, Jumat (12/3/2021) malam.
Membawa kembali pariwisata yang lesu karena pandemi
Di tengah harapan bangkit dari situasi pandemi, Sandi mendapat masukan dari Sultan terkait kebijakan pariwisata dan ekonomi kreatif yang dinilai mampu memperbesar potensi kebangkitan itu sendiri. Salah satunya adalah masukan tentang travel pattern.
“Yaitu satu inovasi dalam pengembangan pariwisata agar pariwisata lebih berkualitas dengan jumlah length of stay atau jumlah hari yang lebih meningkat,” kata Sandi di Keraton Kilen.
Selain itu, ada pula masukan bagaimana agar kualitas belanja pariwisata kedepannya bisa lebih baik.
Meminta dukungan untuk program kawasan Borobudur Highland
Sandi juga meminta dukungan Sultan terkait program pengembangan kawasan Dataran Tinggi Borobudur, salah satunya Kabupaten Kulon Progo.
“Lahan-lahan yang ada di Kulon Progo agar bisa dalam konsep berkelanjutan. Jadi glamping dan kegiatan-kegiatan yang berbasis alam terbuka. Kita harapkan dengan adopsi teknologi, ini membuka peluang usaha dan juga menghidupkan desa-desa wisata di sekitar Borobudur Highland,” harap Sandi.
Meminta prioritas vaksinasi bagi pelaku pariwisata DIY
Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu juga mengutarakan keinginannya untuk memprioritaskan vaksinasi COVID-19 bagi pelaku pariwisata di Yogyakarta.
Fakta bahwa DIY sebagai provinsi yang sangat mengandalkan pariwisata tidak bisa dihindari bagi Sandi.
“Vaksinasi yang kita harapkan ini bisa diprioritaskan, karena banyak sekali masyarakat di Yogyakarta (DIY) ini yang ada di frontline berkaitan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Sandi.
“Dengan jumlah vaksin yang tersedia meningkat ini juga bisa digaspol untuk vaksinasi, khususnya masyarakat yang bergerak di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” pungkasnya.
Pandemi mengarah pada lahirnya kolaborasi
Sementara itu, Sultan sendiri mengatakan pandemi COVID-19 telah melahirkan pemahaman, gagasan, dan kolaborasi baru dalam berbagai aspek. Termasuk pariwisata tentunya.
Ide untuk kolaborasi ini harus dikembangkan sebelum dikembangkan nanti. Misalnya, sambung Sultan, konsep Desa Mandiri Budaya di DIY merupakan kekuatan baru penggerak perekonomian masyarakat.
“Karena di Jogja (DIY) ini pertumbuhan ekonomi sudah diletakkan di kecamatan. Desa Mandiri Budaya itu jadi kekuatan baru, semoga saja ini mendorong tetap tumbuh, ya seperti Mangunan, Breksi, dan sebagainya itu bisa tetap bertahan,” tutur Sultan.
Mandiri dalam gaya seniman dan budayawan DIY
Di hadapan Sandi, Sultan juga menceritakan perjuangan seniman dan budayawan sebagai pelaku ekonomi kreatif di Yogyakarta untuk berjuang, bertahan dan berkarya di tengah situasi pandemi Corona.
Sultan mengatakan, pelaku budaya dan pekerja seni di Yogyakarta rata-rata enggan mengandalkan bantuan pemerintah, terutama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Mereka lebih bahagia saat bisa berdiri sendiri.
“Rata-rata pelaku budaya dan seniman ini tidak mau mendapatkan BLT. Maunya tetap harus lewat kreativitas mereka,” kata Sultan.
Sultan melanjutkan, seniman atau budayawan beralih ke media virtual untuk menjangkau khalayak agar tidak melewatkan protokol kesehatan. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah DIY bergerak membantu mempromosikannya.
“Itu kami tetap mendorong pentas tapi lewat streaming. Baik live maupun sudah direkam lebih dulu (taping),” pungkasnya.
Tangkasnetindo | Bolatangkas Online Asia | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya







0 Komentar