ilustrasi: tekno.tempo
Tangkas Net Indo - Kepala Staf di Kantor Kanselir Jerman Helge Braun, khawatir kasus Covid-19 bisa melonjak menjadi 100 ribu per hari dalam dua bulan mendatang. Hal itu bisa dicegah bila banyak warga Jerman bersedia divaksinasi. Dia juga meminta mereka yang menolak divaksin agar dibatasi aksesnya.
Usulan Braun itu ditolak beberapa politisi senior termasuk Armin Laschet, kandidat konservatif yang diprediksi menggantikan Angela Merkel sebagai kanselir dalam pemilihan umum pada 26 September mendatang.
Lebih dari dua bulan kasus Covid-19 di Jerman mengalami penurunan. Namun pada Juli, kasusnya mulai meningkat seiring dengan menyebarnya varian delta di Eropa.
Helge Braun mengatakan kepada surat kabar Bild am Sonntag bahwa kasus meningkat 60 persen per minggu meskipun hampir setengah dari rakyat Jerman sudah divaksinasi penuh.
Pelonggaran pembatasan sosial yang dilakukan dengan tidak hati-hati membuat kasus COVID-19 di Jerman naik lagi.
Penyebabnya, sebuah pesta dansa yang diadakan di kelab malam di kota Muenster, Jerman, Bagian barat.
Dilaporkan sedikitnya 63 orang terbukti positif COVID-19 usai menghadiri pesta tersebut.
Otoritas dikejutkan dengan tingginya infeksi COVID-19 sebab hanya orang-orang yang sudah menerima vaksin atau telah sembuh --keduanya diyakini memiliki imunitas terhadap penyakit itu-- yang diizinkan untuk menghadiri pesta.
Selama pesta berlangsung hampir 380 orang berada di kelab tersebut dan sejauh ini 63 orang di antaranya dinyatakan positif COVID-19, demikian penyiar WDR mengabarkan.
Menurut laporan, banyak di antara mereka yang hanya mengalami gejala ringan.
Sejumlah negara bagian dan kota di Jerman telah melonggarkan pembatasan COVID-19 bulan lalu dan mengizinkan restoran, kafe dan kelab membuka kembali area dalam ruangan mereka. Namun, hanya orang-orang yang menunjukkan bukti vaksinasi atau penyintas COVID-19 yang diperbolehkan masuk.
Aturan masuk yang baru kerap disebut sebagai "aturan 2G", dari bahasa Jerman Geimpfte (sudah vaksin) dan Genesene (sembuh).
Namun para kritikus mengatakan aturan itu membuat penerima vaksin merasa tidak aman, sebab studi baru-baru ini menunjukkan bahwa individu-individu yang telah menerima vaksinasi masih dapat tertular dan menularkan virus ke yang lain.








0 Komentar