Tangkas Net Indo - Ketua Komisi VIII Yandri Susanto mengaku mendapat informasi sulitnya calon jemaah haji asal Indonesia berangkat ke Arab Saudi tahun ini. Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi dari otoritas Saudi terkait apakah calon jemaah haji asal Indonesia boleh masuk ke sana.
Namun, Yandri menduga hal itu karena calon jemaah haji Indonesia menggunakan vaksin CoronaVac. Sedangkan vaksin buatan China tidak masuk dalam daftar empat vaksin yang diakui otoritas Saudi. Empat vaksin COVID-19 yang telah mendapat pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan disetujui oleh Saudi adalah merek AstraZeneca, Johnson & Johnson, Pfizer, dan Moderna.
“Sekarang, masalahnya kalau kita dapat kuota tetapi calon jemaah haji disuntik dengan Sinovac ya gak bisa juga, Pak Menteri Agama. Selain itu, orang yang sudah divaksinasi tidak bisa juga divaksinasi secara beruntun dengan merek vaksin berbeda,” kata Yandri saat menggelar Rapat Dengar Pendapat. (RDP) bersama Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di kompleks parlemen, Senin (31/5/2021), seperti disaksikan dari tayangan YouTube.
Menurut Yandri, kejadian ini merupakan koreksi atas kebijakan pemberangkatan haji ke depan. Tujuannya agar pemberian merek vaksin bagi calon jemaah haji harus sesuai dengan ketentuan otoritas Saudi.
Yandri juga mendesak Menteri Agama Yaqut untuk segera berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo “Jokowi” terkait keputusan yang akan segera diambil. “Bila Saudi menutup (peluang bagi jemaah) Indonesia, maka kesalahan itu bukan di Indonesia, tetapi karena Saudi tidak lagi bisa menerima jemaah di luar dari 11 negara tadi,” ujarnya lagi.
Apa langkah Menteri Agama Yaqut terkait sikap otoritas Saudi?
Saudi belum memberikan informasi apakah akan membuka kuota bagi calon jemaah haji dari luar negaranya
Menurut Menteri Agama, Yaqut, hingga saat ini belum ada kepastian dari otoritas Saudi apakah akan memberikan kuota jemaah haji kepada warga di luar negeri atau kebijakannya sama dengan yang diterapkan pada 2020. Sedangkan sisanya waktunya sampai dengan batas akhir penyelenggaraan haji yang akan dilaksanakan pada 14 Juli 2021, tinggal 1,5 bulan lagi.
Yaqut mengatakan, belum adanya kepastian membuat Kementerian Agama tak bisa merampungkan persiapan calon jemaah haji.
“Misalnya kontrak penerbangan, penyiapan dokumen perjalanan, penyiapan petugas, hingga pelaksanaan bimbingan manasik belum dapat dilakukan. Itu semua dapat dilakukan bila ada kepastian soal jumlah kuota haji secara resmi dari Saudi,” kata Yaqut.
Pihaknya juga belum bisa memastikan informasi akomodasi dan transportasi darat bagi calon jemaah haji selama berada di Saudi. Sementara itu, informasi terkait pengaturan protokol kesehatan bagi calon jemaah haji juga diperlukan.
Menteri Agama Yaqut juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa skenario pemberangkatan. Namun, kini skenario yang tersisa tetap jika Saudi hanya menyediakan 1,8 persen dari kuota sebelumnya atau setara dengan 3.660 calon jemaah haji asal Indonesia.
“Sehingga, jumlah kloter (kelompok terbang) mencapai 12, tenggat waktu pemberian kuota pada 28 Mei 2021 dan waktu keberangkatan kloter pertama calon jemaah haji kami estimasikan pada 13 Juli 2021,” jelasnya.
Menteri Agama Yaqut memprediksi RI bisa memberikan vaksin Johnson & Johnson ke calon jemaah haji
Dalam raker tersebut, Menteri Agama Yaqut juga menyampaikan bahwa calon jemaah haji Indonesia berkesempatan untuk disuntik vaksin merek Johnson & Johnson. Sedangkan tiga merek vaksin lainnya yakni AstraZeneca, Pfizer, dan Moderna sulit didapat dalam waktu dekat.
“Sedangkan, Johnson & Johnson hanya butuh sekali di-shoot (suntik) dan atas ikhtiar kami bersama Kementerian Kesehatan, sudah ada komitmen untuk memperoleh vaksin bagi calon jemaah haji,” kata Yaqut.
Ia pun berjanji akan segera berkomunikasi dengan Presiden Jokowi untuk mengambil langkah paling tepat terkait penyelenggaraan ibadah haji.
Menteri Agama Yaqut mengklaim penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia masih lebih baik dari AS.
Dalam rapat kerja dengan Komisi VIII, Menteri Agama Yaqut juga memaparkan data berupa perkembangan harian kasus COVID-19 di negara yang mengirimkan calon jemaah haji. Dari data tersebut, kasus harian COVID-19 di India terlihat mengkhawatirkan. Sementara itu, angka harian COVID-19 di Indonesia bersaing dengan kasus yang muncul di Filipina dan Malaysia.
Namun, Yaqut mengklaim, penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia masih lebih baik dari Amerika Serikat. Pasalnya, hingga saat ini mereka masih menduduki posisi pertama dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia.
“Berdasarkan urutan, AS ini ada di peringkat pertama penanganan COVID-19 terburuk di dunia. Prancis di rangking 8, Italia di peringkat ke-9, Jerman di peringkat 17 terburuk, sedangkan Indonesia lebih mending di peringkat 19. Jadi, masih ada lagi di atasnya yang buruk-buruk itu," katanya lagi.









0 Komentar