Presiden Joko Widodo dalam keterangan resmi tentang UU Omnibus Law Cipta Kerja pada Jumat, 9 Oktober 2020, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. - BPMI Setpres
Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mendesak Presiden Joko Widodo “Jokowi” untuk terlibat langsung dalam penanganan pandemi COVID-19. Pandu mengatakan, ini akan menjadi vaksin terbaik untuk membasmi virus yang telah menewaskan 39 ribu orang itu.
“Vaksin paling penting bukan Moderna atau AstraZeneca atau Sinovac, tapi leadership Pak Jokowi,” kata Pandu dalam rilis hasil survei Indikator Politik Indonesia terkait Suara Anak Muda dalam Isu-Isu Sosial Politik Nasional, Minggu (21/3/2021).
Keterlibatan langsung mempengaruhi keseriusan pekerjaan
Alumni University of California Los Angeles ini menuturkan, selama penanganan pandemi COVID-19 masih dalam kendali Satgas, Jokowi bisa dengan mudah menyalahkan pihak tersebut ketika situasi memburuk.
“Masalahnya tergantung pada pemerintah dan Pak Jokowi,” jawab Pandu terkait apa yang harus dilakukan pemerintah saat ini.
“Di situ, jangan lagi mendelegasikan (penanganan) kepada Satgas, beliau harus menunjukkan leadership. Pandemik ini masalah besar. Karena yang melaksanakan tidak langsung Pak Jokowi. Jadi kalau ada kesalahan bisa menyalahkan Satgas,” imbuhnya.
Kesehatan masyarakat telah menjadi isu politik
Pada kesempatan yang sama, Indikator merilis hasil survei tentang preferensi politik Generasi Z yakni yang berusia 17-21 tahun. Soal pertanyaan, jika pemilu digelar hari ini, siapa yang akan dipilih oleh responden?
Tiga posisi teratas ditempati oleh kepala daerah yang berperan penting dalam memerangi COVID-19, yaitu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (15,2 persen), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (13,7 persen), dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (10,2 persen).
Menanggapi temuan tersebut, Pandu menegaskan bahwa kesehatan masyarakat telah menjadi isu politik sebagai salah satu efek pandemi.
“Partai politik dan kepala daerah juga harus menunjukkan leadership-nya. Mungkin kenapa itu Pak Anies menjadi pilihan diantara rangking karena terkait leadership penanganan pandemi,” ujarnya.
Presiden Jokowi diminta tidak mengulangi kesalahan yang sama
Terakhir, Pandu mengingatkan Jokowi agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti tahun lalu, yaitu inkonsistensi kebijakan. Tahun lalu, misalnya, presiden dinilai tidak tegas melarang mudik. Tahun ini, dia mengingatkan Jokowi agar konsisten dalam kebijakan vaksinasi.
Pada periode kedua pemerintahan Jokowi, tantangan utama yang harus dihadapi adalah virus corona. Karena pandemi telah menjadi isu politik, keberhasilan pemerintahan presidensial bergantung pada bagaimana Indonesia keluar dari situasi krisis.
“Kalau pelaksanaan vaksinasi tidak konsisten, itu bisa jadi bumerang, akan berdampak terhadap kepercayaan publik,” pungkas Pandu.
Tangkasnetindo | Bolatangkas Online Asia | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya







0 Komentar